Dalam beberapa hal, film ‘Ninja Assasin’ dan film ‘Memoirs of Geisha’, memiliki kesamaan. Setidaknya ada tiga kesamaan dari ke dua film ini. Pertama, tentu saja, cerita film yang bermuara pada hal yang bertautan dengan negeri sakura, Jepang, yaitu ninja dan geisha. Ke dua, sebagai film dengan latar dan cerita Jepang, ke dua film tak berminat mempercayakan karakter utamanya kepada pemain film Jepang.
Produser dan sutradara ‘Memoirs of Geisha’ lebih memilih dua aktris cantik Cina daratan, Zhang Ji Yi dan Gong Li, plus aktris Malaysia, Michelle Yeoh, sebagai deretan pemeran utama film mereka. Sedangkan tim casting film Ninja Assasin mempercayakan dua aktor Korea untuk memerankan karakter utama film. Salah satunya, penyanyi kenamaan Korea, Rain.
Jika ‘Ninja Assasin’ tak memunculkan kritik pedas dari media Jepang terkait pemilihan karakter utama film, maka ‘Memoirs of Geisha’ berada pada posisi sebaliknya. Media Jepang habis-habisan mengkritik sutradara Rob Marshal atas pilihannya tersebut. Mereka menyayangkan pilihan tersebut yang dinilai akan mengurangi rasa ‘Jepang’ pada film yang diangkat dari novel berjudul sama tersebut.
Kesamaan lain adalah tata artistik nan indah yang disuguhkan ke dua film. Memoirs of Geisha hadir dengan kemasan romantik sepanjang film. Bunga-bunga sakura, kimono dengan warna-warna cerah, dan kecantikan para geisha mewarnai adegan-adegan film yang berhasil membawa nama Zhang Ji Yi masuk nominasi aktris terbaik pada ajang Golden Globe ini.
Sedangkan Ninja Assasin, berhasil membawa cipratan-cipratan darah yang mewarnai tiga perempat bagian film, pada kesan ‘indah’. ‘Keindahan’ itu mungkin akan terasa saat adegan pertarungan antara Raizo, tokoh yang diperankan Rain, dengan sang guru dari Klan Ozunu di beberapa adegan menjelang akhir film. Hadir dengan gambar siluet, cipratan darah itu muncul bak taburan tinta merah di sebuah kanvas lukisan.
Cipratan-cipratan darah ala ‘Ninja Assasin’ itu mungkin mengingatkan penonton pada aksi serupa yang dipertontonkan film ‘300’. Bedanya, ketika pedang samurai mengayun ke mana-mana, menghempaskan lawan, dan memotong bagian-bagian tubuh, kesan sadis pun seperti tak terbatahkan. Hanya, kesadisan itu tidak serupa dengan kesadisan yang dimunculkan pada film seperti Hostel atau SAW.
Sayangnya, keasyikan menyaksikan aksi laga dengan tata artistik memikat itu tercederai dengan kegegabahan penulis skenario dan sutradara untuk memasukkan sisi sejarah ninja. Entah mendapat referensi dari mana, mereka berdua kompak memasukkan nama Ibnu Batuta, salah satu pemikir Islam, sebagai orang yang dianggap melatarbelakangi munculnya ninja-ninja pembunuh. Karena dalam kaca mata sang penulis skenario yang diperkuat dengan gambar yang disajikan sutradara, selama melakukan kunjungan misi dagang di Jepang, Ibnu Batuta memiliki hobi melihat pertaruangan antar anak kecil yang kelak akan menjadi ninja-ninja pembunuh.
Ah, ini yang rasanya membuat film ‘Ninja Assasin’ layak disebut film dengan stereotip khas Hollywood. Film-film yang diposisikan sebagai media kampanye untuk membuat citra buruk pihak manapun yang dianggap ‘musuh’ negeri Paman Sam. Jadi, saat beranjak dari bangku bioskop, kita hanya dapat berguman kecil,”Hollywood memang selalu punya tafsir seenak dewek mereka tentang semua hal.” ARW



Recent Comments